Kelebihan Zat Besi karena Genetik?

Jika tubuh kita menyerap zat besi terlalu banyak dapat menyebabkan suatu penyakit yang disebut hemokromatosis. Zat besi disimpandi berbagai organ seperti lapisan kulit, hati, pankreas, jantung, dan sendi. Tubuh kita tidak dapat meningkatkan kecepatan pembuangan zat besi, sehingga jika jumlahnya berlebih dapat merusak organ-organ tubuh dan menyebabkan berbagai kelainan. Hemokromatosis dapat dibagi menjadi 4 menurut umur terjadinya dan yang paling sering adalah hemokromatosis tipe 1 yang terjadi pada usia dewasa. Pada pria dengan hemokromatosis tipe 1 biasanya gejala akan timbul pada usia 40-60 tahun, sedangkan pada wanita, gejala akan timbul setelah menopause (berhentinya siklus menstruasi karena pengaruh usia dan hormon). Gejala-gejala yang dapat timbul akibat penyakit ini seperti:

  1. Kelelahan yang ekstrim
  2. Nyeri pada sendi
  3. Nyeri perut
  4. Hilangnya gaira seksual
  5. Penyakit liver atau hati
  6. Penyakit jantung
  7. Diabetes (peningkatan kadar gula darah)
  8. Kulit tampak menjadi lebih gelap

Pengaruh genetik

Pada hemokromatosis tipe 1 dipengaruhi oleh adanya perubahan genetik yaitu pada gen HFE. Gen HFE berfungsi untuk memproduksi suatu protein di permukaan sel, hati, dan sel-sel di saluran cerna dan berinteraksi dengan protein-protein di permukaan sel untuk mendeteksi jumlah zat besi dalam tubuh kita. Dalam tubuh kita terdapat suatu reseptor yang bernama reseptor transferin 1. Ketika reseptor ini melekat dengan protein transferin, maka zat besi akan masuk ke dalam sel-sel di hati. Jika reseptor ini melekat dengan protein HFE, maka reseptor transferin 1 tidak dapat melekat dengan protein transferin sehingga mencegah zat besi masuk ke dalam sel-sel di hati dan menjaga kadar zat besi dalam hati.

Selain itu, gen HFE juga meregulasi produksi dari suatu protein yaitu hepcidin. Hepcidin ini dibentuk di hati dan berfungsi untuk menentukan jumlah zat besi yang diserap dan dilepaskan dari penyimpanan. Ketika protein HFE tidak melekat dengan reseptor transferin 1, maka protein ini akan melekat dengan protein-protein lainnya termasuk hepcidin sehingga protein hepcidin dapat diproduksi dan begitu juga sebaliknya.

Ada 2 mutasi pada struktur protein HFE yang bertanggung jawab untuk penyakit ini yaitu:

  1. Penggantian asam amino sistein dengan asam amino tirosine (C282Y)

Mutasi ini menyebabkan protein HFE tidak dapat mencapai permukaan sel

  1. Penggantian asam amino histidin dengan asam amino asam aspartat (H63D)

Mutasi ini menyebabkan protein HFE tidak dapat berinteraksi dengan reseptor transferin 1 dan protein lainnya sehingga mengganggu penganturan zat besi dalam tubuh dan menyebabkan penyerapan zat besi terlalu banyak dan menyebabkan penyakit hemokromatosis.

Untuk membantu menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan langsung, pemeriksaan dengan alat, dan juga cek darah. Selain itu dapat juga dilakukan pemeriksaan genetik yang bisa Anda lakukan di DNAku.

 

Referensi

HFE gene. Genetics Home Reference. 2019 Available from: https://ghr.nlm.nih.gov/gene/HFE#resources

Hereditary hemochromatosis. Genetics Home Reference. 2019. Available from: https://ghr.nlm.nih.gov/condition/hereditary-hemochromatosis#synonyms

Hemochromatosis type 1. Genetic and Rare Diseases Information Center (GARD) – an NCATS Program. Rarediseases.info.nih.gov. 2019. Available from: https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/10417/hemochromatosis-type-1

Type 1 Hereditary Hemochromatosis & HFE Gene. Hemochromatosis Help. Hemochromatosis Help. 2019. Available from: https://hemochromatosishelp.com/type-1-hereditary-hemochromatosis/