Jerawat dan Genetik : Berhubungan?

Jerawat atau dalam bahasa medis disebut juga sebagai acne vulgaris adalah kelainan kulit yang terjadi akibat adanya inflamasi kronis pada kelenjar sebasea, folikel dan batang rambut (hair shaft). Sebanyak 85% remaja berusia 12-25 tahun mengalami kelainan ini dengan prevalensi puncak pada usia 15 tahun.[1-3] Jerawat bersifat multifaktorial, artinya pembentukannya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Selain empat faktor utama; produksi minyak kulit (sebum), kolonisasi bakteri P.acnes, penebalan folikel, dan proses inflamasi, jerawat juga dipengaruhi oleh faktor genetik. [3,4]

 

Peranan genetik dalam perjalanan penyakit kulit ini mulai diidentifikasi pada tahun 1990an melalui penelitian yang menunjukkan adanya berbagai ekspresi dan mutasi gen terkait dengan jerawat. Beberapa gen, seperti sitokrom P450, human leukocyte antigen (HLA), dan beberapa glikoprotein lain terbukti berperan sebagai faktor predisposisi kelainan kulit ini. Perubahan dan polimorfisme dari gen terebut menyebabkan terganggunya sistem kaskade inflamasi dan meningkatkan hormon androgen. Perubahan tersebut berdampak pada maturasi unit pilosebasea (kelenjar minyak), produksi minyak berlebih di kulit dan mencetuskan inflamasi yang berperan dalam mekanisme terbentuknya jerawat.[1-3,5]

 

Peranan genetik dan keturunan terhadap pembentukan jerawat juga ditunjang dengan beberapa penelitian lain. Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan orang tua yang menderita jerawat pada kulit ketika usia muda memiliki kemungkinan sebesar 80% untuk mengalami hal serupa. Fakta ini juga ditunjang oleh penelitian lain yang menunjukkan peluang terjadinya jerawat lebih besar pada kembar identik (monozigot) dibandingkan dengan kembar non-identik (dizigot). Hal ini terkait dengan ekskresi dan komposisi sebum dengan kandungan asam lemak bercabang yang lebih tinggi pada kembar identik.[3,5]

 

Selain berhubungan dengan resiko terjadinya penyakit, riwayat keluarga memiliki peranan penting dalam prognosis dan tingkat keparahan jerawat. Adanya riwayat keluarga dengan jerawat berpotensi membuat onset penyakit timbul lebih awal dan jumlah lesi yang lebih banyak. Hal ini berimplikasi pada lebih sulitnya tatalaksana karena kemungkinan relaps, terutama paska pemberian terapi, menjadi lebih besar pada penderita yang memiliki riwayat keluarga dengan jerawat.[3]

 

Kondisi jerawat pada kulit tidak dapat dilepaskan dari faktor genetik. Adanya mutasi dan polimorfisme pada gen mengganggu proses fisiologis yang menyebabkan terbentuknya jerawat. Selain itu, genetik juga dapat digunakan sebagai prediktor resiko, serta prognosis kelainan kulit ini. Pemahaman terhadap mekanisme terbentuknya jerawat, termasuk faktor genetik yang mempengaruhinya, memunculkan harapan terhadap penemuan tatalaksana yang lebih spesifik melalui penelitian lebih lanjut di masa mendatang.

 

Referensi

Lynn D, Umari T, Dellavalle R, Dunnick C. The epidemiology of acne vulgaris in late adolescence. Adolescent Health, Medicine and Therapeutics. 2016;7:13-25

Tuchayi S, Makrantonaki E, Ganceviciene R, Dessinioti C, Feldman S, Zouboulis C. Acne vulgaris. Nature Reviews Disease Primers. 2015;1(1):1-20.

Plewig G, Melnik B, Chen W. Plewig and Kligmanâs Acne and Rosacea. Cham: Springer International Publishing; 2019.

Zeichner J, Baldwin H, Cook-Bolden F, Eichenfield L, Fallon-Friedlander S, Rodriguez D. Emerging Issues in Adult Female Acne. J Clin Aesthet Dermatol. 2017;10(1):37-46.

Common J, Barker J, van Steensel M. What does acne genetics teach us about disease pathogenesis?. British Journal of Dermatology. 2019:1-12.